1. Syarat Pertumbuhan

a. Iklim

– Iklim kering lebih cocok untuk calon varietas dibandingkan dengan iklim basah.

– Dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100 – 400 mm/bulan.

– Suhu yang dikehendaki antara 21 – 340C, akan tetapi suhu optimum bagi pertumbuhan yaitu 23 – 270 C. Pada perkecambahan benih memerlukan suhu yang cocok sekitar 300C

b. Media Tanam

– Pada dasarnya calon varietas menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah.

– Dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah, asalkan drainase dan aerase tanah cukup baik.

– Jenis tanah yang cocok untuk budidaya buncis yaitu regosol, grumosol, latosol, dan andosol.

– Membutuhkan tanah yang kaya akan humus atau bahan organik. 

– Toleransi keasaman tanah sebagai syarat pertumbuhan adalah pH 5 – 7.

c. Ketinggian Tempat

Buncis calon varietas sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 315 mdpl di wilayah kabupaten kediri.

2. Pengolahan Media Tanam 

Dalam mempersiapkan penanaman, dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu yaitu dilakukan dua kali pencangkulan. Pertama biarkan bongkahan selamaa 7 hari, pencangkulan kedua sekaligus meratakan, menggemburkan dan membersihkan tanah dari sisa – sisa akar tanaman sebelumnya.

Selanjutnya untuk memudahkan pemeliharaan dibuat bedengan,  menggunakan bentuk bedengan dengan ukuran lebar 1 meter dan panjang 12 sesuai dengan kondisi lahan yang ada, dengan ketinggian bedengan 20 – 30 cm agar terhindar dari banjir bila hujan terus menerus. Jarak antar bedengan 50 cm, selain sebagai jalan juga untuk saluran pembuangan air. Selanjutnya untuk menjaga kelembaban tanah dan mencegah pertumbuhan gulma, bedengan ditutup dengan plastik hitam perak.

3. Teknik Penanaman

Jarak tanam optimum untuk calon varietas yaitu antar baris 70 cm dan dalam baris 45 cm. Jarak  tanam hendaknya teratur, agar tanaman memperoleh ruang tumbuh yang seragam. Pembuatan lubang dengan cara ditugal sedalam 5 – 10 cm sesuai jarak tanam. Untuk penanaman benih dimasukan ke dalam lubang tanam sebanyak dua biji untuk menjaga bila salah satu benih tidak tumbuh dan kemudian ditutup dengan tanah/kompos waktu penanaman yang baik adalah pagi hari.

4. Pemeliharaan Tanaman 

– Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 2 – 7 hst, apabila dalam satu lubang ada yang mati dilakukan penyulaman segera, untuk menjaga agar produksi tetap baik. Waktu penyulaman dilakukan pada sore hari agar tidak layu dan mudah untuk beradaptasi.

– Pemasangan ajir 

Calon varietas merupakan tanaman tipe tumbuh melilit. Maka perlu diberi ajir untuk menopang pertumbuhan tanaman supaya perkembangannya dapat lebih baik. Ajir yang digunakan adalah ajir bambu yang  panjangnya 180 cm dan lebar 5 cm. lanjaran bambu tersebut ditancapkan di dekat tanaman pada saat tanaman berumur 7 – 10 hari setelah pindah tanam. Agar ajir kuat dan kokoh diperlukan tali pengait di antara ujung – ujung bambu.

– Penyiangan 

Penyiangan pertama pada tanaman dilakukan pada umur 2 – 3 minggu setelah pindah tanam. Penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman mulai berbunga atau fase vegetatif maksimal dan dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua. Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mengikis gulma yang tumbuh dengan tangan atau kuret. Apabila lahannya luas dapat juga dengan menggunakan herbisida.

5. Pemupukan 

Pemupukan diaplikasikan beberapa tahap dan dilakukan 7 hari sekali dengan dosis pupuk secara tepat adalah sebagai berikut :

– Tahap I umur 15 hst (saat pertumbuhan awal) menggunakan pupuk NPK dosis 30 kg/ha dengan cara dilarutkan dengan air dengan dosis 100 gram/10 liter air dan 50 ml/tanaman.

– Tahap II umur 30 hst (saat fase vegetatif maksimal) menggunakan pupuk NPK (Phonska) dosis 40 kg/ha dicampur pupuk ZA dosis 10 kg/ha dengan cara ditugal 3 g/tanaman.

– Tahap III umur 45 hst (saat fase generatif) menggunakan pupuk NPK dosis 40 kg/ha dicampur pupuk ZA dosis 10 kg/ha dengan cara ditugal    3 g/tanaman.

– Tahap selanjutnya untuk meningkatkan hasil produksi, maka setiap selesai panen ke 2 atau ke 3 sebaiknya dipupuk kembali menggunakan NPK buah dengan dosis 30 kg/ha dengan cara dilarutkan dengan air dengan dosis 100 gram/liter dan 100 ml/tanaman.

6. Pengairan dan penyiraman 

Buncis calon varietas BCKLD10 menghendaki kondisi tanah yang lembab namun tidak becek. Bila tidak hujan selama 3 hari, tanah harus diairi, dengan cara tanaman digenangi air selamaa 30 – 60 menit. Kelebihan air akan menyebabkan akar membusuk, maka perlu diberi saluran pembuangan untuk menghindari kelebihan air.

7. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan pada waktu yang berbeda-beda tergantung jenis hama, penyakit dan pola penyerangannya. Berikut ini adalah tahapan penyemprotan :

– Tahap I dilakukan pada saat tanaman berumur 5 – 7 hst.

– Tahap II dilakukan pada saat tanaman berumur 20 – 25 hst.

– Tahap III dilakukan pada saat tanaman berumur 35 – 40 hst.

– Pengendalian tahap selanjutnya disesuaikan dengan keadaan tanaman di lapangan.

Penyemprotan pengendalian hama dan penyakit menggunakan insektisida, fungisida, bakterisida, dan akarisida sesuai jenis hama dan penyakit yang menyerang dengan dosis sesuai dengan rekomendasi pada masing-masing pestisida yang digunakan. Penyemprotan dilakukan secara merata pada permukaan daun (atas dan bawah) dan batang tanaman. Penyemprotan dilakukan pagi hari atau sore hari. Untuk meningkatkan hasil dalam penyemprotan perlu ditambahkan pupuk pelengkap cair dan perekat.

8. Panen 

Buncis varietas dilakukan panen pertama pada saat tanaman berumur 44 – 46 hari setelah tanam, tergantung jenis tanah dan ketinggian tempat. Ciri ciri polong siap panen apabila sebagian besar polong sudah kelihatan padat, segar, dan mudah dipatahkan, namun belum berubah warna dan biji di dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang baik adalah pagi dan sore hari.

Cara panen yang dilakukan biasanya dengan cara di petik dengan tangan. Penggunaan pisau atau benda tajam yang lain sebaiknya di hindari karena dapat menimbulkan luka pada bagian tanaman itu sendiri. Kalau hal ini terjadi maka cendawan atau bakteri dapat masuk kedalam jaringan, sehingga kualitas polong menurun. Pelaksanaan panen dapat dilakukan secara bertahap, yaitu setiap 2 – 3 hari sekali. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh polong yang seragam dalam tingkat kemasakannya.