- Persiapan Lahan
A. Pengolahan lahan
Pengolahan lahan dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan sanitasi lahan dengan pembersihan gulma dan tanaman pengganggu dilahan. Selanjutnya dilakukan pencangkulan dan pembajakan yang bertujuan untuk pembalikan tanah, sehingga dapat memperbaiki pori-pori tanah. Selain pembalikan tanah, dilakukan pula pemecahan agregat-agregat tanah dengan rotary sehingga tekstur tanah lebih berongga dengan pori mikro. Satu minggu setelahnya, lahan dikelentangkan terlebih dahulu guna perbaikan aerasi dan drainase tanah, serta bertujuan untuk membunuh organisme tanah pengganggu tanaman.
Pengolahan lahan selanjutnya dilakukan dengan mempersiapkan bedengan yang berukuran lebar 1.2 m, panjang bedengan disesuaikan kondisi lahan, tinggi bedengan 30 – 40 cm, dan lebar parit 40 cm. Setelah pembentukan bedengan kemudian dilakukan penebaran pupuk awal yang terdiri dari pupuk kandang dengan dosis 10 ton/ha, sedangkan dosis NPK grower dengan dosis 2 ton/ha. Pupuk diaduk dengan tanah secara merata bersamaan dengan penyempurnaan bentuk bedengan. Selanjutnya bedengan ditutup dengan mulsa plastic hitam perak. Untuk meningkatkan pematangan pupuk dan membunuh bibit penyakit dan gulma dalam media tanah maka dilakukan teknik solarisasi, bedengan yang sudah terbentuk dibasahi secukupnya dan ditutup mulsa plastik yang dirapatkan dan dibiarkan selama 7 – 15 hari. Apabila sudah siap tanam, mulsa dibuka dan tanah digemburkan kembali dengan merata, tutup kembali dengan mulsa, kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran 60 cm x 40 cm sesuai jarak tanam.
B. Persemaian
Media yang digunakan adalah campuran antara kompos, cocopeat dan arang sekam dengan perbandingan 60% : 30% : 20% serta campuran MKP sebanyak 1/100 dari campuran. Campuran media tersebut kemudian diratakan dan diamasukan kedalam pot tray sebagai tempat persemaian.
Setelah media semai siap, kemudian benih ditanam di bagian tengah media yang ditutup tipis dengan campuran media. Persemaian tersebut diberikan naungan atau shading yang dapat melindungi tanaman dari terpaan air hujan dan angin. Pemeliharaan dilakukan dengan memberikan siraman air setiap harinya hingga benih tumbuh. Pencegahan serangan hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan pestisida dosis rendah. Bibit siap tanam mulai didapat pada umur 28-35 hari setelah semai dilakukan.
C. Penanaman
Waktu tanam terbaik dilakukan pada sore hari untuk meminimalisir evapotranspirasi dan panas yang berlebih. Penanaman pada sore hari juga permaksud untuk memberikan waktu lebih pada benih untuk recovery semalaman. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya layu pada tanaman akibat panas. Penyiraman bibit dilakukan sebelum penanaman untuk mencegah terjadinya layu pada saat pemindahan bibit tersebut ke lahan.
D. Pemeliharaan
Pemeliharaan cabai dilakukan intensif dengan kontrol terhadap nutrisi dan OPT yang maksimal mengingat siklus hidup tanaman ini relatif pendek dan banyak OPT penting tanaman ini.
Pemberian pupuk susulan dilakukan bertahap pada 7 hst dengan dosis sebesar 5 g/tan, 14 hst sebanyak 10 g/tan, 28 hst sebesar 15 g/tan, dan 42 hst
sebanyak 15 g/tan. Pemupukan susulan berupa pupuk NPK (16 : 16 : 16).
Pemberian ajir sebagai penyangga akan memudahkan pemeliharaan dan menjaga agar tanaman tidak rebah oleh terpaan angin. Pemasangan ajir dapat dilakukan selambat-lambatnya pada 14 hari setelah tanam.
E. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan hasil dan produksi tanaman atau bahkan dapat menggagalkan pemanenan. Maka dari itu, perlu dilakukan pencegahan serta pengendalian hama dan penyakit untuk melindungi tanaman dari ancaman kerusakan. Untuk mengetahui cara pemberantasannya, perlu terlebih dahulu mengetahui informasi mengenai deskripsi hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman cabai.
a. Hama
Beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman cabai adalah sebagai berikut :
- Whitefly ( Bemisia tabaci, Trialeurodes vaporariorum)
Hama jenis ini disebut juga kutu putih, hama bring, atau kutu kebul, yang banyak hidup di bagian bawah daun yang masih muda. Kutu putih ini hidup dengan mengisap cairan daun. Gejala daun yang terserangakan menampakan warna kekuningan dan bercak kekuningan. Bila serangan cukup serius, maka daun akan menjadi kering dan rontok. White fly ini merupakan vektor penyakit Geminivirus yang berbahaya bagi tanaman cabai. Pengendalian yang dapat ditempuh antara lain: sanitasi lahan dari gulma, perangkap lengket berwarna kuning.
- Ulat buah ( Helicoverpa armigera)
Gejala serangan ulat buah dapat dilihat pada bagian buahnya yang berlubang, serta bagian dalam buah yang rusak. Ulat menggerek, melubangi dan merusak bagian dalam buah hingga menjadi busuk. Pada satu buah cabai, ulat yang hidup umumnya hanya satu ekor, karena sifatnya yang akan membunuh ulat sejenis yang lainnya (kanibal). Serangga dewasa dapat ditangkap dengan menggunakan perangkap cahaya yang dipasang malam hari, atau dengan perangkap kuning yang lekat. Pengendalian secara mekanik, yaitu dengan cara pemusnahan ulat dalam buah secara langsung. Aplikasi insektisida menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif Betasiflutrin, Prothiofos. Pada musim penghujan disarankan menggunakan bahan perekat/surfaktan.
b. Penyakit Tanaman
Beberapa jenis penyakit utama yang menyerang tanaman cabai adalah sebagai berikut:
- Leaf blight ( Phytophthora capsici)
Penyakit ini sering disebut hawar daun dengan gejala serangan busuk pada daun yang berkembang menjadi kering kehitaman, layu, mati dan gugur. Hawar meluas ke batang dan buah, berwarna abu-abu kehitaman. Pada kelembaban yang tinggi nampak jamur berwarna tipis di permukaan bagian tanaman yang terinfeksi. Perkembangan jamur ini didukung oleh kondisi lingkungan yang dingin dan basah, sehingga banyak terdapat di dataran tinggi dan menengah. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi terhadap gulma, memperbaiki drainase, penggunaan fungisida dengan bahan aktif Dimetomorf, Folpet, dan Mankozeb.
- Virus Gemini
Gejala penyakit yang disebabkan oleh gemini virus sangat beragam, sehingga tidak dapat secara pasti diketahui gejala spesifik akibat infeksi gemini virus tersebut. Umumnya tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil, ruas-ruas pada percabangan memendek dan cenderung mengarah ke atas. Helaian daun berubah bentuk menjadi lebih kecil, keriting dan berbentuk seperti mangkuk atau cekung. Tanaman yang terinfeksi pada umur muda menjadi kerdil dan tidak mampu menghasilkan bunga. Apabila infeksi terjadi ketika tanaman sudah berbunga, maka seringkali bunga akan gugur sebelum terjadi penyerbukan. Penyebaran virus terjadi melalui vektor hama White fly. Cara pencegahan terhadap serangan penyakit ini adalah menjaga sanitasi terhadap gulma, memperbaiki drainase dan memunahkan tanaman yang terinfeksi.
- Early blight (Alternaria solani)
Penyerangan penyakit busuk kering Alternaria dapat terjadi pada seluruh bagian tanaman. Pada daun ditandai dengan adanya bercak coklat kehitaman yang dikelilingi warna kuning seperti membentuk cincin. Bila tanaman terserang penyakit busuk kering, maka batangnya akan terlihat hitam dan sedikit berair kemudian membesar, sedangkan buah yang terserang akan menjadi busuk pada pangkalnya. Pengendalian penyakit dilakukan dengan pemberian fungisida yang berbahan aktif diantaranya Tebukonazol, Metiram, dan Klorotalonil.
- Layu bakteri oleh Pseudomonas solanacearum
Penyakit layu bakteri atau ’bacterial wilt’ menyebabkan layu pada tanaman secara tiba-tiba tanpa diawali gejala menguning pada daun. Batang utama akan tampak hijau dan tegak, namun tangkai dan helaian daun akan layu dan luruh. Tanaman yang terserang, akan memperlihatkan helaian daun yang terkulai, namun masih berwarna hijau. Apabila batang tanaman dipotong melintang, maka akan tampak pembuluh angkut yang berwarna kecokelatan. Ketika batang tersebut dicelupkan ke dalam air jernih, akan terlihat massa bakteri yang menyerupai asap yang berasal dari potongan batang tersebut.
Pengendalian penyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan cara:
penanaman varietas yang tahan atau toleran, rotasi tanaman, sanitasi terhadap gulma, perbaikan drainase untuk menghindari terjadinya genangan air, pencabutan dan pemusnahan tanaman yang terserang. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan pemberian bakterisida yang berbahan aktif Dazomet, Streptomycine, dan Asam Oksolinik.
F. Pemanenan
Tanaman cabai mulai dapat dipanen pada umur 91 – 150 hari setelah tanam. Panen dilakukan setiap 3-4 hari sekali. Pemanenan dilakukan ketika buahbelum masak total, agar buah cabai masih memiliki kekerasan yang lebih tinggi untuk kepentingan pengangkutan jarak jauh.